Kamis, 01 Juni 2017

Pengertian Dan Penerapan Induktif-Deduktif dalam Ilmu Pengetahuan


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Deduktif dan Induktif
1.      Pengertian Deduktif
Dalam memecahkan suatu permasalahan dalam filsafat ada tiga metode yang digunakan yaitu metode deduktif, induktif dan metode dialetika. Tetapi yang penulis tekankan hanya pada metode deduktif dan induktif. Metode deduktif yaitu proses untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah dengan menarik dugaan-dugaan sementara dari suatu pengujian. Metode ini berfikir dimana suatu kesimpulan diambil dari pinsip-prinsip umum dan diterapkan pada suatu yang besifat khusus.
Metode deduktif berakhir dengan perumusan dugaan sementara yang ditarik secara logis dari pengujian eksplanatoris. Eksplanatoris merupakan penelitian yang bertujuan untuk menguji suatu teori atau penelitian untuk memperkuat atau menolak teori atau hipotesis hasil penelitian yang sudah ada. Eksplanatori bertujuan untuk mengetahui, memperoleh keterangan, informasi, data mengenai hal-hal yang belum diketahui.  .
Contoh metode deduktif: setiap manusia yang lahir di dunia pasti akan mengalami kematian. Si Ahmad adalah manusia berdasarkan ketantuan yang bersifat umum itu Ahmad akan mengalami kematian karena Ahmad merupakan manusia.
Umum             : Manusia mengalami kematian
Khusus            : Ahmad adalah manusia
Kesimpulan     : Ahmad akan mengalami kematian
           

2.      Pengertian Induktif
Metode yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari prinsip khusus kemudian diterapkan kepada sesuatu yang bersifat umum. Pada umumnya bersifat generalisasi. Metode induktif berdasarkan sejumlah fenomena, fakta, atau data tertentu yang dirumuskan dalam proporsi-proporsi tunggal sehingga ditarik kesimpulan yang dianggap benar dan berlaku untuk umum. Dengan mengumpulkan data-data dalam jumlah tertentu, dan menyusunnya dalam suatu ucapan khusus. Pada penggunaan metode induktif, kesimpulan yang diperoleh merupakan suatu keadaan yang boleh jadi benar.
Diawali dengan penelitian untuk mengamati berbagai fenomena dan mengumpulkan berbagai macam fakta dan data yang kemudian dievaluasi untuk bisa melahirkan kesimpulan umum tertentu. Kesimpulan tesebut merupakan generalisasi dari fakta dan data atau proporsi tunggal yang ada yang memperlihatkan kesamaan, keterkaitan, dan regularitas antara fakta yang ada.
Dengan menggunakan cara kerja induksi kita bisa langsung menyimpulkan umum tertentu dianggap benar, kebenaran-kesimpulan itu entah berbentuk hukum atau teori ilmiah harus dianggap bersifat sementara. Dengan kata lain, kita secara sah mendasarkan diri pada berbagai fakta untuk menarik suatu kesimpulan yang benar. Hal ini tidak menjamin bahwa kesimpulan tersebut benar secara mutlak karena yang mendasari induktif adalah bahwa induksi tersebut tidak lengkap.
Dalam penelitian ilmu sosial (humaniora) induksi ini semakin menjadi case-study. Permasalahan manusia yang konkret dan individual dalam jumlah terbatas dianalisis, dan hasil dari analisis yaitu pemahan kemudian dirumuskan dalam ucapan umum. Titik pangkal penelitian ditemukan pada kenyataan yang dialami sendiri, atau pada pengalaman yang konkret dan individual. Fakta yang ditemukan disebut intuisi.
Contoh metode induktif :
                        Khusus            : si Ahmad adalah manusia
                        Umum             : ia akan mati
                        Kesimpulan     : seluruh manusia akan mati

B.     Penerapan Deduktif Induktif dalam Ilmu Pengetahuan
1.      Penerapan Deduktif
Dari pengertian umum dibuat eksplisitasi dan penerapan yang lebih khusus, dibedakan menjadi 2 tahap yaitu:
a.       Dari pengertian yang telah diubah menjadi umum dapat dibuat deduksi mengenai sifat-sifat yang lebih khusus yang mengalir dari yang umum tadi. Tapi masih dalam konteks pengertian umum.
b.      Semua yang dari umum harus dikaji kembali menjadi yang individual apakah sesuai dengan kenyataan real lalu direfleksikan kembali
2.      Penerapan Induktif
Langkah-langkah Metode Induksi

Menurut Ricoeur ada 2 (dua) langkah generalisasi yang disebut Distanciation, atau penjarakan (1982. Hal. 13-4), yaitu:
1.      Makna objekektif dalam ekspresi terlepas dari maksud subjek yang mengatakan, yang menunjukan, yang menampakkan, sejauh maksud itu eksentrisik dari ekspresi sendiri ataupun subjektistis. Misal: tidak diperhatikan lagi, apakah subjek mau menipu, mau di puji atau mau berdamai.
2.      Makna objektif dilepaskan dari situasi konkret, yang kebetulan, yang bisa bervariasi banyak. Misal dicari arti pokok dalam ‘kebebasan’.’mengerti’.’kesetiaan’.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar